Friday, August 10, 2018

Lab 15 : DMVPN Phase 1 Dengan Routing RIP

Febriyan Net - Setelah berhasil menghubungkan jaringan lokal menggunakan Static routing pada dmvpn, kali ini kita akan belajar menghubungkan jaringan lokal menggunakan salah satu protokol routing dinamis, yaitu RIP . Topologi yang sudah berjalan :

Gambar 1 Physical Topology
Gambar 2 Logical Topology
Seperti biasa, verifikasi terlebih dahulu apakah tunnel antara spoke sudah terhubung dengan baik ke router Hub dengan cara menguji ping menuju ke ip tunnel dari hub :

R2


R2#ping 10.11.11.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.11.11.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/67/68 ms

R2#

R4


R4#ping 10.11.11.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.11.11.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 44/76/100 ms

R4#

Oke, semua sudah terhubung ke router Hub, Sekarang saatnya masuk ke konfigurasi RIP , kita konfigurasi dulu di sisi Hub :

R1


R1(config)#router rip
R1(config-router)#version 2
R1(config-router)#network 1.1.1.1
R1(config-router)#network 10.11.11.0
R1(config-router)#no auto-summary
R1(config-router)#

Keterangan :

Karena kita ingin mengenalkan jaringan lokal dari R1 ke router router lain (spoke), daftarkan semua network dari jaringan lokal yang directly connected ke R1 yaitu 1.1.1.1 dan 10.11.11.1 . Jangan lupa perintah no auto-summary , agar si penerima table routing tidak menganggap informasi routing ini sebagai classfull .

Lanjutkan di sisi spoke :

R2


R2(config)#router rip
R2(config-router)#version 2
R2(config-router)#network 2.2.2.2
R2(config-router)#network 10.11.11.0
R2(config-router)#no auto-summary
R2(config-router)#

R4


R4(config)#router rip
R4(config-router)#version 2
R4(config-router)#network 4.4.4.4
R4(config-router)#network 10.11.11.0
R4(config-router)#no auto-summary
R4(config-router)#

Saat nya melakukan verifikasi apakah jaringan lokal dari masing masing router sudah teradvertise ke router lain dengan menggunakan perintah :

R1


R1#show ip route rip
     2.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       2.2.2.2 [120/1] via 10.11.11.2, 00:00:20, Tunnel1
     4.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       4.4.4.4 [120/1] via 10.11.11.4, 00:00:21, Tunnel1

R1#

Ternyata, R1 sudah berhasil mendapatkan rute untuk menuju kedua jaringan lokal dari spoke .
Sekarang gantian kita cek dari sisi spoke , apakah juga sudah mendapatkan advertise network dari router router lainnya ?

R2


R2#show ip route rip
     1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       1.1.1.1 [120/1] via 10.11.11.1, 00:00:25, Tunnel1

R2#

R4


R4#show ip route rip
     1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       1.1.1.1 [120/1] via 10.11.11.1, 00:00:13, Tunnel1

R4#

Dan ternyata, router router spoke hanya mendapatkan informasi routing untuk menuju jaringan lokal dari router hub saja, ini karena by default Router Hub akan mengaktifkan fitur Split Horizon dimana jika mengaktifkan fitur tersebut, maka si router Hub tidak akan mengirim balik network dari si pengirim menuju ke interface yang sama (tunnel), jadi kita harus mematikan fitur ini di sisi hub :

R1


R1(config)#int tun1
R1(config-if)#no ip split-horizon 
R1(config-if)#

Sekarang cek kembali table routing di router Spoke :

R2


R2#show ip route rip
     1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       1.1.1.1 [120/1] via 10.11.11.1, 00:00:12, Tunnel1
     4.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       4.4.4.4 [120/2] via 10.11.11.4, 00:00:13, Tunnel1

R2#

R4


R4#show ip route rip
     1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       1.1.1.1 [120/1] via 10.11.11.1, 00:00:06, Tunnel1
     2.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
R       2.2.2.2 [120/2] via 10.11.11.2, 00:00:06, Tunnel1

R4#

Alhasil, masing masing spoke sudah berhasil mendapatkan rute untuk menuju ke jaringan lokal router spoke lain.  Sekarang, cek apakah masing masing jaringan lokal sudah terhubung dengan baik ?

R2


R2#ping 4.4.4.4 source 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 4.4.4.4, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 2.2.2.2
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 128/132/136 ms
R2#ping 1.1.1.1 source 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 1.1.1.1, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 2.2.2.2
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/68/72 ms
R2#

R4

R4#ping 1.1.1.1 source 4.4.4.4

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 1.1.1.1, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 4.4.4.4 
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 88/96/100 ms
R4#ping 2.2.2.2 source 4.4.4.4

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 2.2.2.2, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 4.4.4.4 
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 92/101/116 ms
R4#

Dan akhirnya, semua jaringan lokal pun dapat terhubung dengan baik. Cobak kita traceroute dari jaringan lokal R2 menuju ke jaringan lokal R4 :

R2

R2#traceroute 4.4.4.4 source 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 4.4.4.4

  1 10.11.11.1 68 msec 68 msec 44 msec
  2 10.11.11.4 88 msec 100 msec 72 msec
R2#

Seperti biasa, untuk menuju ke jaringan lokal router spoke lain, R2 harus menuju ke Router Hub terlebih dahulu.

Terimakasih

Read more

Lab 14 : DMVPN Phase 1 Dengan Static Routing

Febriyan Net - Melanjutkan dari topologi sebelumnya pada artikel Lab 13 : Konfigurasi Dasar DMVPN Phase 1 Cisco , pada artikel kali ini kita akan belajar bagaimana menghubungkan jaringan lokal antar Spoke pada jaringan DMVPN , untuk menghubungkan jaringan lokal antar spoke kita dapat menggunakan salah satu protokol routing yaitu Static Routing, yaitu pencarian jalur secara manual oleh sang administrator . Berikut topologi yang akan kita lanjutkan :

Gambar 1 Physical Topology

Dan ini tampilan secara logic nya :

Gambar 2 Logical Topology
Daftar jaringan lokal masing masing perangkat :

R1 : 1.1.1.1/32
R2 : 2.2.2.2/32
R4 : 4.4.4.4/32

Target kita adalah menghubungkan ketiga jaringan lokal tersebut sehingga dapat saling berkomunikasi satu sama lain .

Pertama, verifikasi terlebih dahulu bahwa Router Spoke dapat terhubung ke ip tunnel dari Router Hub :

R2


R2#ping 10.11.11.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.11.11.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 60/66/68 ms

R2#


R4

R4#ping 10.11.11.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.11.11.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 68/93/100 ms

R4#


Setelah tunnel sudah terkoneksi dengan baik, saat nya membangun static routing dari sisi Hub terlebih dahulu agar terhubung dengan jaringan lokal Router Spoke nya :

R1


R1(config)#ip route 2.2.2.2 255.255.255.255 10.11.11.2
R1(config)#ip route 4.4.4.4 255.255.255.255 10.11.11.4
R1(config)#


Verifikasi dengan cara ping ke kedua jaringan lokal router Spoke :

R1#ping 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 2.2.2.2, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/67/68 ms
R1#ping 4.4.4.4

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 4.4.4.4, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 68/93/104 ms
R1#


Oke, selanjutnya buat static routing di sisi spoke :

R2


R2(config)#ip route 1.1.1.1 255.255.255.255 10.11.11.1
R2(config)#ip route 4.4.4.4 255.255.255.255 10.11.11.1
R2(config)#

R4


R4(config)#ip route 1.1.1.1 255.255.255.255 10.11.11.1
R4(config)#ip route 2.2.2.2 255.255.255.255 10.11.11.1
R4(config)#

Keterangan :

Kenapa kita harus menggunakan nexthop nya ip dari tunnel si Hub ? karena itu memang ciri khas nya DMVPN Phase 1 , jika masing masing jaringan lokal Spoke ingin terhubung, traffik harus melewati Hub terlebih dahulu

Nah sekarang verifikasi apakah jaringan lokal pada masing masing spoke dapat terhubung satu sama lain, dengan menggunakan perintah ping :

R2


R2#ping 1.1.1.1 source 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 1.1.1.1, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 2.2.2.2
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 8/18/24 ms
R2#ping 4.4.4.4 source 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 4.4.4.4, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 2.2.2.2
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 36/44/52 ms

R2#

R4


R4#ping 1.1.1.1 source 4.4.4.4

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 1.1.1.1, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 4.4.4.4
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/80/132 ms
R4#ping 2.2.2.2 source 4.4.4.4

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 2.2.2.2, timeout is 2 seconds:
Packet sent with a source address of 4.4.4.4
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 96/99/100 ms

R4#

Oke, jika di traceroute dari jaringan lokal R2 menuju ke jaringan lokal R4 , terlihat akan melewati Hub terlebih dahulu :

R2#traceroute 4.4.4.4 source 2.2.2.2

Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 4.4.4.4

  1 10.11.11.1 64 msec 68 msec 68 msec
  2 10.11.11.4 100 msec 104 msec 132 msec
R2#

Karena memang DMVPN Phase 1 menggunakan teknik seperti ini untuk menghubungkan antar spoke nya, harus lewat Hub terlebih dahulu .

Terimakasih
Read more

Thursday, August 9, 2018

Lab 13 : Konfigurasi Dasar DMVPN Phase 1 Cisco

Febriyan Net - Untuk menghubungkan jaringan lokal di banyak kantor cabang, cisco mempunyai salah satu protokol yang hanya bisa di gunakan untuk perangkat cisco itu sendiri, yaitu DMVPN . Pada DMVPN terdapat 2 istilah, yaitu Hub dan Spoke . Hub adalah perangkat yang akan menjadi Server atau pusat DMVPN , biasanya perangkat Hub ini terletak di Kantor Pusat . dan yang akan menjadi Spoke adalah perangkat perangkat yang terdapat di kantor cabang . Berikut adalah jaringan yang akan kita buat :


Oh iya, Perangkat HUB harus mempunyai Statik IP publik, ip publik R1 pada topologi diatas adalah 111.1.1.1 . Perangkat yang menjadi Spoke ada 2, yang pertama R2 yang ip publik langsung terpasang di perangkat itu sendiri, yang kedua R4, ip publik nya terpasang di R3, jadi dia menggunakan ip lokal 192.168.1.0 dan menggunakan NAT di R3 agar R4 bisa terhubung ke Hub (R1) .

Pastikan terlebih dahulu semua Spoke bisa ping ke Ip publik Hub .

R2

R2#ping 111.1.1.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 111.1.1.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/64/68 ms
R2#


R4

R4#ping 111.1.1.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 111.1.1.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 96/96/100 ms
R4#

Untuk ip lokal yang akan menjadi ip vpn yaitu :

R1 : 10.11.11.1
R2 : 10.11.11.2
R4 : 10.11.11.4

Setting Pada sisi perangkat yang akan menjadi Hub (R1) terlebih dahulu :

R1

R1(config)#interface tunnel 1
R1(config-if)#ip address 10.11.11.1 255.255.255.0
R1(config-if)#tunnel source fastEthernet 0/0
R1(config-if)#tunnel mode gre multipoint
R1(config-if)#tunnel key 1
R1(config-if)#ip nhrp holdtime 300
R1(config-if)#ip nhrp map multicast dynamic 
R1(config-if)#ip nhrp network-id 1
R1(config-if)#

Keterangan : 

R1(config-if)#tunnel source fastEthernet 0/0
interface pada spoke yang menjadi penghubung atau jalur antara spoke dan hub, bisa juga diisi dengan alamat ip interface tersebut .

R1(config-if)#tunnel mode gre multipoint
artinya bisa banyak perangkat yang dapat membangun tunnel ke interface tunnel ini

R1(config-if)#tunnel key 1
Yang menjadi kunci pembeda antara satu tunnel dengan tunnel lainnya dan juga untuk autentikasi tunnel

R1(config-if)#ip nhrp holdtime 300
Waktu jeda pada nhrp untuk melakukan sinkronisasi atau request ke perangkat tunnel lawan, ini waktu yang digunakan untuk melakukan mapping atau pemetaan semua ip publik yang dimiliki oleh perangkat spoke yang terhubung ke hub

R1(config-if)#ip nhrp map multicast dynamic
Menggunakan mapping dinamis, artinya si administrator tidak perlu listing manual ip publik yang dimiliki perangkat spoke 

R1(config-if)#ip nhrp network-id 1
Untuk pembeda antara satu nhrp dengan nhrp lainnya pada perangkat ini


Verifikasi Interface Tunnel telah Up :

R1#show ip interface brief 
Interface                  IP-Address      OK? Method Status                Protocol
FastEthernet0/0            111.1.1.1       YES manual up                    up      
FastEthernet1/0            unassigned      YES unset  administratively down down    
FastEthernet2/0            unassigned      YES unset  administratively down down    
FastEthernet3/0            unassigned      YES unset  administratively down down    
Tunnel1                    10.11.11.1      YES manual up                    up      
R1#

Sekarang konfigurasi pada sisi spoke, atau cabang :

R2

R2(config)#int tunnel 1
R2(config-if)#ip address 10.11.11.2 255.255.255.0
R2(config-if)#tunnel source fa0/0
R2(config-if)#tunnel destination 111.1.1.1
R2(config-if)#tunnel key 1
R2(config-if)#ip nhrp holdtime 300
R2(config-if)#ip nhrp map 10.11.11.1 111.1.1.1
R2(config-if)#ip nhrp network-id 1
R2(config-if)#ip nhrp nhs 10.11.11.1

Keterangan :

R2(config-if)#ip nhrp map 10.11.11.1 111.1.1.1
ini teknik manual mapping ip publik dari perangkat hub , karena memang harus statik 

R2(config-if)#ip nhrp nhs 10.11.11.1
ip lokal tunnel yang akan menjadi Hub atau pusat tunnel


R4

R4(config)#interface Tunnel1
R4(config-if)# ip address 10.11.11.4 255.255.255.0
R4(config-if)# ip nhrp map 10.11.11.1 111.1.1.1
R4(config-if)# ip nhrp network-id 1
R4(config-if)# ip nhrp holdtime 300
R4(config-if)# ip nhrp nhs 10.11.11.1
R4(config-if)# tunnel source FastEthernet0/0
R4(config-if)# tunnel destination 111.1.1.1
R4(config-if)# tunnel key 1
R4(config-if)#
*Mar  1 00:22:28.335: %LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Tunnel1, changed state to up
R4(config-if)#

Verifikasi bahwa spoke memang sudah benar benar terhubung dengan Hub

R1#show ip nhrp
10.11.11.2/32 via 10.11.11.2, Tunnel1 created 00:03:32, expire 00:01:27
  Type: dynamic, Flags: authoritative unique registered used 
  NBMA address: 111.1.1.2 
10.11.11.4/32 via 10.11.11.4, Tunnel1 created 00:01:12, expire 00:03:47
  Type: dynamic, Flags: authoritative unique registered 
  NBMA address: 111.1.1.3 
    (Claimed NBMA address: 192.168.1.2) 
R1#

Keterangan :

Karena Router R4 dibelakang NAT, akan muncul keterangan :

(Claimed NBMA address: 192.168.1.2)

itu merupakan ip jaringan lokal dari R4


Sekarang cobak cek konektifitas tunnel yang sudah dibuat dengan cara ping dari ip lokal tunnel cabang (Spoke) ke ip lokal tunnel pusat (Hub) :

R2

R2#ping 10.11.11.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.11.11.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/77/88 ms
R2#

R4

R4#ping 10.11.11.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.11.11.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 68/86/100 ms
R4#

Oke, berarti masing masing cabang sudah terhubung dengan baik ke kantor pusat melalui interface tunnel , tinggal selanjutnya jika ingin jaringan lokal dari masing masing cabang bisa terhubung, bisa menggunakan protokol routing seperti static, eigrp, rip, ospf , ataupun BGP .


Read more

Ceramah Singkat : Gambaran Hisab di Hari Kiamat

Ceramah Singkat : Gambaran Hisab di Hari Kiamat – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Salah satu hal yang patut diingat adalah kita akan dihisab, lalu tahukah anda bagaimana pemandangan hisab di hari kiamat ? Ada 2 macam , yang pertama Allah SWT akan memperlihatkan kepada orang beriman seluruh AMAN dan dia tidak bisa mengelak sedikit pun, dia akan mengakui seluruh dosa dosa nya, lalu Allah SWT akan menutupi dosa tersebut dan mengampuninya, itu salah satu pemandangan hisab untuk orang yang beriman, dan itupun sudah mendatangkan siksa.

Siapa yang diteliti saat hisabnya, maka dia pasti binasa, Hati hati, hisab dirimu sebelum engkau dihisab oleh Allah SWT

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh



Read more

Wednesday, August 8, 2018

Ceramah Singkat : Banyak niat dalam satu ibadah

Ceramah Singkat : Banyak niat dalam satu ibadah

Oleh Ustadz Johan Saputra Halim M.HI.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Boleh jadi dalam suatu amalan pada diri seseorang berkumpul banyak niat, sesuai dengan kadar niat yang dia miliki . Tentu saja yang dimaksud adalah niat yang baik atau niat yang hasad, niat dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah. Boleh jadi niat niat seperti itu berkumpul pada satu amalan, tidak hanya satu niat, maka dari setiap niat tersebut dia akan mendapatkan pahala selain pahala beramal, dia juga akan mendapatkan pahala dari setiap niatnya yang berkumpul didalam hatinya.

Dengan sebuah contoh sederhana, misalkan anda bekerja di sebuah perkantoran, kemudian telah masuk untuk melakukan sholat dhuhur. Anda bergegas mengambil air wudlu kemudian anda niatkan untuk segera menuju ketaatan kepada Allah SWT karena bersegera menyambut panggilan Allah SWT itu adalah satu amalan tersendiri dengan niat tersendiri. Kemudian anda niatkan juga untuk menunggu waktu sholat di masjid , anda niatkan juga untuk menyapa saudara - saudara sesama muslim di masjid dengan mengucapkan salam kepada mereka ini adalah niat tersendiri. Kemudian disaat yang sama anda meniatkan untuk beri'tikaf di masjid, kemudian anda tambahkan lagi niat untuk mengasingkan diri dari hal hal yang tidak bermanfaat di waktu istirahat seperti misalkan berbicara riba, namimah, hal hal yang mendatangkan dosa atau hal hal yang tidak bermanfaat lainnya . Misalkan Anda juga meniatkan sesampai di masjid nanti anda akan membersihkan masjid seandainya anda menemukan debu atau kotoran , misalkan anda meniatkan itu sebagai pengagungan terhadap rumah Allah SWT dan anda meniatkan agar kaum muslimin tidak terganggu dengan sampah atau kotoran tersebut .

Dari setiap niat yang dikumpulkan ini, kata para ulama itu bisa menjadi pahala tersendiri yang terpisah . Sungguh indah anugrah Allah SWT kepada kita hambanya , kita mungkin diberikan umur yang pendek , umat Muhammad tidak diberikan usia yang panjang, tidak seperti umat umat terdahulu, namun Allah SWT memberikan kita anugerah dengan dilipatgandakannya pahala suatu amalan dan untuk setiap niat yang baik. Pada suatu amalan, Allah berikan ganjaran yang layak .

Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niat, harus dilakukan dengan niat, dan atas niat ibadah seseorang, dia akan mendapatkan pahalanya atau ganjarannya .

Semoga dapat memberikan inspirasi dan manfaat kepada kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Terimakasih


Read more

Wednesday, May 30, 2018

Lab 12 : Monitoring Mikrotik menggunakan Cacti dengan Template Tambahan


Febriyan Net - melanjutkan dari topologi kemarin pada artikel Lab 11 : Monitoring Router Mikrotik Menggunakan Cacti , kali ini kita akan mencoba menambahkan template mikrotik pada cacti . Untuk apa template ? Jika kita tidak menggunakan template tambahan untuk memonitoring perangkat mikrotik, biasanya hanya beberapa informasi saja yang dapat kita monitoring sehingga kurang begitu kompleks atau kurang begitu lengkap. Maka dari itu kita perlu menggunakan template tambahan untuk memonitoring fitur fitur yang ada di mikrotik seperti PPP, ARP, Route, Queue Dan lain lain .

Melanjutkan dari topologi pada artikel sebelumnya :

Gambar 1 Topologi
Pertama, download dulu template mikrotik nya di link berikut : https://drive.google.com/open?id=1vtk-NCSroj7DH7WVXlUaViJXtirfZBvF

Simpan dulu di komputer, lalu extrack file template yang sudah di download, kemudian masuk ke folder template yang telah di extract , akan muncul file template mikrotiknya :

Gambar 2 File Template
Setelah itu buka cacti dashboard nya melalui browser dan masuk ke menu Import Templates di menu sebelah kiri :

Gambar 3 Menu Import Templates
Lalu pada kolom inputan Local File cari file template yang telah di download dan diextract tadi:

Gambar 4 Import Template From Local File
 Jika sudah Klik Import . Jika proses berhasil, maka akan muncul pemberitahuan success :

Gambar 5 Proses Import Berhasil
Sampai tahap ini template sudah dapat digunakan, hanya saja masih ada beberapa informasi yang belum bisa tampil seperti queue, wireless . Maka dari itu kita juga harus mengimport script untuk queue dan wireless tapi dengan cara manual, yaitu dengan memindah file template nya terlebih dahulu ke server cacti nya dengan menggunakan scp, atau ftp .

febriyan@x:~/Downloads$ scp mikrotik-20090210.tar.gz febri@192.168.122.108:/home/febri
The authenticity of host '192.168.122.108 (192.168.122.108)' can't be established.
ECDSA key fingerprint is SHA256:HzHNj/7lPNgnkenKZXdC9RhCyackCVG4CtrKPz5vIVU.
Are you sure you want to continue connecting (yes/no)? yes
Failed to add the host to the list of known hosts (/home/febriyan/.ssh/known_hosts).
febri@192.168.122.108's password:
mikrotik-20090210.tar.gz                      100%   35KB  12.2MB/s   00:00   

febriyan@x:~/Downloads$


selanjutnya cek apakah file sudah terupload ke server cacti nya :

root@cactisrv:/home/febri# ls
mikrotik-20090210.tar.gz

root@cactisrv:/home/febri#


Okeh, sekarang saatnya mengekstract file tersebut menggunakan perintah :

root@cactisrv:/home/febri# tar -xvf mikrotik-20090210.tar.gz
mikrotik-20090210/template/
mikrotik-20090210/scripts/
mikrotik-20090210/resource/script_server/mikrotik_wireless_interfaces.xml
mikrotik-20090210/resource/snmp_queries/mikrotik_queue_tree.xml
mikrotik-20090210/resource/snmp_queries/mikrotik_wireless_client.xml
mikrotik-20090210/
mikrotik-20090210/resource/snmp_queries/mikrotik_queue_simple.xml
mikrotik-20090210/template/cacti_host_template_mikrotik.xml
mikrotik-20090210/resource/
mikrotik-20090210/scripts/mikrotik_ppp_connections.php
mikrotik-20090210/resource/snmp_queries/
mikrotik-20090210/scripts/mikrotik_wireless_interfaces.php
mikrotik-20090210/resource/script_server/

root@cactisrv:/home/febri#


Pindah file file yang ada di dalam directory scripts ke directory cacti nya yaitu di /usr/share/cacti/resource/script_queries

root@cactisrv:/home/febri# cp mikrotik-20090210/scripts/mikrotik_* /usr/share/cacti/resource/script_queries/


Lalu salin file file yang ada di dalam directory resource/script_server/ ke directory /usr/share/cacti/resource/script_server/

root@cactisrv:/home/febri# cp mikrotik-20090210/resource/script_server/* /usr/share/cacti/resource/script_server/


Selanjutnya salin file yang ada di dalam directory resource/snmp_queries/ ke directory /usr/share/cacti/resource/snmp_queries/

root@cactisrv:/home/febri# cp mikrotik-20090210/resource/snmp_queries/* /usr/share/cacti/resource/snmp_queries/


Sekarang masuk lagi ke web base nya cactinya untuk mengkonfigurasi perangkat mikrotik nya agar menggunakan template yang sudah diupload . Klik pada manu Devices dan Pilih Perangkat yang akan kita beri template nya .

Gambar 6 Menu Devices
Jika konfigurasi import template kita benar, maka secara otomatis akan muncul Host Template baru bernama Mikrotik, silahkan ganti template pada device ini ke template Mikrotik seperti gambar berikut :

Gambar 7 Ganti Host Template
Jika sudah diganti, lalu klik Save agar device mulai memproses penggunaan template baru . Jika dilihat pada kolom Graph Template, akan muncul Jenis jenis graph baru yang berhubungan dengan mikrotik seperti gambar berikut :

Gambar 8 Tampilan Graph
Sekarang waktunya membuat graph yang baru , dengan cara klik pada tombol Create Graph for This Host .

Gambar 9 Klik Create Graph For This Host
Nah, silahkan pilih graph graph yang akan kita buat dan kita tampilkan . Sekarang muncul lebih banyak informasi tentang mikrotik nya dibandingkan jika tanpa menggunakan template :

Gambar 10 Daftar Graph baru
Silahkan pilih sesuai keinginan teman teman. Ada juga statistik interface :

Gambar 11 Interface Statistics
Jika sudah, klik Create untuk mulai membuat Graph nya . Pastikan tidak muncul error .

Gambar 12 Verifikasi pembuatan graph
Sekarang saat nya melihat seluruh graph nya di menu Graphs Tree Mode . Apakah sudah berjalan grafiknya ?

Gambar 13 Tampilan Graph
Ternyata masih kosong, kita harus menunggu beberapa menit sampai grafik mulai berjalan seperti gambar berikut :

Gambar 14 Graph 1

Gambar 15 Graph 2

Gambar 16 Graph 3
Sekian langkah langkah tentang monitoring mikrotik menggunakan cacti , semoga bermanfaat
Terimakasih
Read more

Tuesday, May 29, 2018

Lab 11 : Monitoring Router Mikrotik Menggunakan Cacti


Febriyan Net - Pertama, pastikan terlebih dahulu teman teman sudah membuat server untuk menjadi server monitoring cacti , jika belum silahkan ikuti langkah langkah pada artikel Cara Install Cacti untuk Monitoring Server di Debian 8 Jessie. Cacti menggunakan protokol SNMP untuk memonitoring perangkat lain, dengan menggunakan SNMP, seluruh informasi pada suatu perangkat akan dapat diambil oleh si monitoring server, sehingga si monitoring server dapat melakukan pemantauan seperti lalu lintas data pada setiap interface, penggunaan Memori, Penggunaan Harddisk, Dan lain lain.

Pada Artikel kali ini, kita akan mencoba untuk memonitoring perangkat mikrotik dengan menggunakan cacti. Berikut topologi yang akan digunakan :

Gambar 1 Topologi

Oh iya, pertama pastikan terlebih dahulu antara server monitoring dengan perangkat yang akan di monitoring terhubung dengan baik . Kita cek menggunakan ping :

root@cactisrv:/home/febri# ping 192.168.1.2
PING 192.168.1.2 (192.168.1.2) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 192.168.1.2: icmp_seq=1 ttl=64 time=0.282 ms
64 bytes from 192.168.1.2: icmp_seq=2 ttl=64 time=0.403 ms
^C
--- 192.168.1.2 ping statistics ---
2 packets transmitted, 2 received, 0% packet loss, time 1027ms
rtt min/avg/max/mdev = 0.282/0.342/0.403/0.063 ms

root@cactisrv:/home/febri#


Setelah kedua perangkat terhubung dengan baik, masuk ke router mikrotik nya, lalu aktifkan service snmpnya dengan menggunakan perintah :

[admin@R1] > snmp set enabled=yes
[admin@R1] >


By Default, snmp pada mikrotik akan menggunakan Community Public, jika dipikir pikir, jika kita menggunakan community ini rasanya seperti kurang aman saja, karena bisa saja router kita di pantau oleh orang lain dengan sembarangan, maka dari itu kita harus mengganti community default nya. Buat dulu community nya dengan menggunakan perintah :

[admin@R1] > snmp community add name=lokal read-access=yes addresses=192.168.1.1
  
[admin@R1] > 


Pada Parameter Name diisi dengan nama community yang nantinya digunakan untuk server monitoring agar dapat berkomunikasi dengan router ini, kemudian pada parameter read-access digunakan agar si monitoring server dapat memantau atua membaca data data dan informasi yang ada di dalam router. Lalu pada parameter addresses diisi dengan alamat ip server monitoring yang boleh menjalankan snmp ke router ini, jika ingin aman silahkan beri ip yang spesifik seperti perintah diatas, jika masih dalam tahap belajar bisa mengganti alamatnya ke 0.0.0.0/0 artinya semua server monitoring yang berasal dari alamat mana saja bisa memperoleh informasi router ini .

Ingat baik baik nama community nya, karena nama community inilah yang nantinya digunakan oleh cacti agar dapat berkomunikasi dengan router . Setelah itu, sett agar snmp menggunakan community yang sudah dibuat tadi


[admin@R1] > snmp set trap-community=lokal
[admin@R1] >

Sebagai tambahan saja, jika ingin menambah informasi lokasi, atau kontak pada snmp router ini, bisa menggunakan perintah :

[admin@R1] > snmp set contact=febriyan.net location=jawatengah      
[admin@R1] >

Sehingga secara keseluruhan hasilnya adalah sebagai berikut :

[admin@R1] > snmp print
          enabled: yes
          contact: febriyan.net
         location: jawatengah
        engine-id:
      trap-target:
   trap-community: lokal
     trap-version: 1
  trap-generators:

[admin@R1] >

Sekarang masuk ke cacti nya menggunakan web base nya .

Gambar 2 Dashboard Cacti
Kemudian kita harus menambah perangkat yang akan dimonitoring dengan cara klik pada bagian menu "Devices" .

Gambar 3 Menu Devices
Kemudian klik pada bagian "Add" .

Gambar 4 Tombol Add untuk menambah perangkat
Akan muncul form yang harus diisi tentang identitas perangkat yang akan dimonitoring . Identitas disesuaikan dengan konfigurasi snmp saat di mikrotik

Description : Deskripsi atau nama perangkat
Hostname : Alamat Host perangkat
Host Template : ucd/net SNMP Host
SNMP Version : versi snmp mikrotik
SNMP Community : community snmp mikrotik

Sehingga menjadi sebagai berikut :

Gambar 4 Mengisi identitas perangkat
Perhatikan baik baik pada kolom isian SNMP Version dan SNMP Community, harus sesuai dengan konfigurasi snmp pada mikrotik nya.
Jika sudah, klik tombol Create pada posisi paling bawah halaman .

Gambar 5 Klik Tombol Create

Jika konfigurasi snmp benar, maka akan muncul informasi snmp dari si mikrotik di bagian atas halaman .

Gambar 6 Informasi perangkat yang di monitor
Selanjutnya yaitu membuat graph atau grafik yang menunjukkan informasi si mikrotik . Caranya yaitu dengan cara klik pada tombol Create Graph for This Host dibagian atas sebelah kanan

Gambar 7 Membuat Graph
Akan muncul opsi opsi graph yang ingin digunakan, karena ini masih versi simple, alias belum mengunakan plugin tambahan, informasi yang akan kita buat graph masih terbatas . Centang opsi yang akan digunakan sebagai graph

Gambar 8 Opsi Graph
Jika sudah, klik tombol Create untuk menyelesaikan pembuatan graph .

Gambar 9 Tombol Create untuk menyelesaikan pembuatan graph
Pastikan pembuatan graph berhasil dengan munculnya pemberitahuan .

Gambar 10 Verifikasi Pembuatan Graph
Selanjutnya adalah membuat tampilan Tree atau tampilan pohon hirarki agar mempermudah kita untuk memantau graph . Caranya klik menu Graph Tree pada menu sebelah kiri .

Gambar 11 Klik Graph Trees
Kemudian klik tombol Add .

Gambar 12 Klik Add
Isi kolom Name dengan nama yang dijadikan root atau induk dari tree yang akan kita buat. Kemudian klik Create

Gambar 13 Buat Root Tree
Setelah itu kita mulai mengisi tree yang kita buat, dengan cara klik Add pada Tree Item

Gambar 14 Menambah Tree Item

Isi Tree Item dengan Host karena kita akan menambahkan perangkat yang akan kita monitoring kedalam graph agar mempercepat pembuatan graph .

Gambar 15 Menambah Tree Item

Jika sudah, klik Create . Sekarang graph sudah berhasil dibuat, mari kita coba pantau graph yang sudah kita buat dengan cara klik Menu Graphs dan masuk ke graph tree yang sudah kita buat .

Gambar 16 Masuk ke Graph
Maka akan terlihat grafik grafik yang sudah kita buat sebelumnya, jika grafik belum menunjukkan perubahan atau penambahan, silahkan tunggu beberapa saat. Karena memang snmp hanya bekerja pada interval tertentu jadi harus bersabar jika ingin melihat grafik pertama bekerja .

Gambar 17 Tampilan Graph Interface
Jangan kawatir jika graph tak kunjung muncul, yang terpenting adalah status device untuk device yang kita monitoring sudah menunjukkan UP artinya perangkat sudah terkoneksi dengan server kita, tinggal menunggu saja sinkronisasi graph nya.

Gambar 18 Status Up Device

Terimakasih
Read more

Monday, May 28, 2018

Lab 10 : Peering Full Mesh BGP Pada Mikrotik

Febriyan Net - Untuk menghubungkan antar router dalam satu AS Number, biasanya kita harus menggunakan teknik Full Mesh . Di dalam teknik Full Mesh kita harus membuat peer suatu router ke seluruh router yang masih dalam satu AS Number tersebut . Contohnya adalah sebagai berikut :

Gambar 1 Peering Full Mesh
Jika Router R1 ingin mendapatkan Advertise Network dari R3 dan R2, maka R1 harus membuat  peering menuju R2 dan R3 . Ini Juga berlaku jika misalnya ingin menambah router baru, maka semua router harus melakukan peering ke router yang baru jika ingin mendapatkan advertise network dari router yang baru. Metode atau teknik ini memang lumayan melelahkan jika sudah di dalam topologi yang besar.
Berikut topologi yang akan kita terapkan sistem full mesh nya :

Gambar 2 Topologi Full Mesh
Konfigurasikan alamat ip terlebih dahulu pada masing masing router sesuai dengan topologi diatas :

R1

[admin@R1] > ip address print
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic
 #   ADDRESS            NETWORK         INTERFACE                             
 0   1.1.1.1/32         1.1.1.1         lo0                                   
 1   11.11.11.11/32     11.11.11.11     lo1                                   
 2   10.10.10.1/24      10.10.10.0      ether1     
                           
[admin@R1] >


R2

[admin@R2] > ip address print
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic
 #   ADDRESS            NETWORK         INTERFACE                             
 0   10.10.10.2/24      10.10.10.0      ether1                                
 1   11.11.11.2/24      11.11.11.0      ether2                                
 2   2.2.2.2/32         2.2.2.2         lo0                                   
 3   22.22.22.22/32     22.22.22.22     lo1 
                                  
[admin@R2] >


R3

[admin@R3] > ip address print
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic
 #   ADDRESS            NETWORK         INTERFACE                             
 0   11.11.11.3/24      11.11.11.0      ether1                                
 1   3.3.3.3/32         3.3.3.3         lo0                                   
 2   33.33.33.33/32     33.33.33.33     lo1   
                                
[admin@R3] >


Sekarang buat Routing IGP agar masing masing interface loopback0 terhubung karena interface itulah yang akan kita gunakan untuk melakukan peering , teman teman bisa menggunakan Routing OSPF atau RIP untuk menghubungkan masing masing loopback0 nya. yang terpenting ketiga loopback terhubung satu sama lain, ini bisa kita buktikan dengan melakukan ping antar loopback :

[admin@R1] > ping 2.2.2.2 src-address=1.1.1.1
  SEQ HOST                                     SIZE TTL TIME  STATUS         
    0 2.2.2.2                                    56  64 0ms
    1 2.2.2.2                                    56  64 1ms
    sent=2 received=2 packet-loss=0% min-rtt=0ms avg-rtt=0ms max-rtt=1ms

[admin@R1] > ping 3.3.3.3 src-address=1.1.1.1
  SEQ HOST                                     SIZE TTL TIME  STATUS         
    0 3.3.3.3                                    56  63 1ms
    1 3.3.3.3                                    56  63 1ms
    sent=2 received=2 packet-loss=0% min-rtt=1ms avg-rtt=1ms max-rtt=1ms

[admin@R1] >


Oke, ketika loopback sudah terhubung, sekarang waktunya mensett agar ketiga router menggunakan AS Number 100 .

R1

[admin@R1] > routing bgp instance set default as=100
[admin@R1] >


R2

[admin@R2] > routing bgp instance set default as=100
[admin@R2] >


R3

[admin@R3] > routing bgp instance set default as=100
[admin@R3] > 


Selanjutnya yaitu konfigurasi peering full mesh nya :

R1

[admin@R1] > routing bgp peer add remote-address=2.2.2.2 remote-as=100 update-source=lo0
[admin@R1] > routing bgp peer add remote-address=3.3.3.3 remote-as=100 update-source=lo0
[admin@R1] >


Konfigurasi peering seperti biasa, hanya saja pada teknik full mesh, setiap router harus membuat peer ke seluruh router lawan yang ada pada satu jaringan BGP nya. 

R2

[admin@R2] > routing bgp peer add remote-address=1.1.1.1 remote-as=100 update-source=lo0
[admin@R2] > routing bgp peer add remote-address=3.3.3.3 remote-as=100 update-source=lo0
[admin@R2] >


R3

[admin@R3] > routing bgp peer add remote-address=1.1.1.1 remote-as=100 update-source=lo0
[admin@R3] > routing bgp peer add remote-address=2.2.2.2 remote-as=100 update-source=lo0      
[admin@R3] >


Sekarang kita cek peering yang sudah kita buat :

R1
 
[admin@R1] > routing bgp peer print
Flags: X - disabled, E - established
 #   INSTANCE        REMOTE-ADDRESS                                 REMOTE-AS 
 0 E default         2.2.2.2                                        100       
 1 E default         3.3.3.3                                        100     
  
[admin@R1] >


R2

[admin@R2] > routing bgp peer print
Flags: X - disabled, E - established
 #   INSTANCE        REMOTE-ADDRESS                                 REMOTE-AS 
 0 E default         1.1.1.1                                        100       
 1 E default         3.3.3.3                                        100   
    
[admin@R2] >


Jika Flags menunjukkan huruf E, berarti konfigurasi peering sudah berhasil dan antar router sudah dapat bertukar informasi routing.

Nah, sekarang waktunya mengadvertise network loopback1 pada masing masing router agar semua loopback1 router dapat terhubung .

R1

[admin@R1] > routing bgp network add network=11.11.11.11/32
[admin@R1] >


R2

[admin@R2] > routing bgp network add network=22.22.22.22/32
[admin@R2] >


R3

[admin@R3] > routing bgp network add network=33.33.33.33/32
[admin@R3] >


Kita cek pada table routing R1 , apakah sudah mendapatkan rute untuk menuju loopback1 R2 dan R3 ?

[admin@R1] > ip route print
Flags: X - disabled, A - active, D - dynamic,
C - connect, S - static, r - rip, b - bgp, o - ospf, m - mme,
B - blackhole, U - unreachable, P - prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEWAY            DISTANCE
 0 ADC  1.1.1.1/32         1.1.1.1         lo0                       0
 1 ADo  2.2.2.2/32                         10.10.10.2              110
 2 ADo  3.3.3.3/32                         10.10.10.2              110
 3 ADC  10.10.10.0/24      10.10.10.1      ether1                    0
 4 ADo  11.11.11.0/24                      10.10.10.2              110
 5 ADC  11.11.11.11/32     11.11.11.11     lo1                       0
 6 ADb  22.22.22.22/32                     2.2.2.2                 200
 7 ADb  33.33.33.33/32                     3.3.3.3                 200

[admin@R1] >


Terlihat sudah ada rute untuk menuju ke loopback1 R2 dan R3, berarti konfigurasi peering kita sudah berhasil . Jika semisal, kita tidak menggunakan teknik Full Mesh, alias si R1 hanya melakukan Peering ke tetangga terdekatnya saja (R2) maka table routingnya tidak mendapat rute ke R3 :

[admin@R1] > routing bgp peer disable numbers=1
[admin@R1] > ip route print
Flags: X - disabled, A - active, D - dynamic,
C - connect, S - static, r - rip, b - bgp, o - ospf, m - mme,
B - blackhole, U - unreachable, P - prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEWAY            DISTANCE
 0 ADC  1.1.1.1/32         1.1.1.1         lo0                       0
 1 ADo  2.2.2.2/32                         10.10.10.2              110
 2 ADo  3.3.3.3/32                         10.10.10.2              110
 3 ADC  10.10.10.0/24      10.10.10.1      ether1                    0
 4 ADo  11.11.11.0/24                      10.10.10.2              110
 5 ADC  11.11.11.11/32     11.11.11.11     lo1                       0
 6 ADb  22.22.22.22/32                     2.2.2.2                 200

[admin@R1] > routing bgp peer enable numbers=1
[admin@R1] >


Untuk pengecekan dapat juga menggunakan ping . Ping dari loopback1 router R1 ke loopback1 router R3 :


[admin@R1] > ping 33.33.33.33 src-address=11.11.11.11
  SEQ HOST                                     SIZE TTL TIME  STATUS          
    0 33.33.33.33                                56  63 0ms 
    1 33.33.33.33                                56  63 1ms 
    sent=2 received=2 packet-loss=0% min-rtt=0ms avg-rtt=0ms max-rtt=1ms


[admin@R1] >


Alhasil, ping menunjukkan reply menandakan kedua loopback telah terhubung satu sama lain .

Terimakasih
Read more