Showing posts with label CCNA. Show all posts
Showing posts with label CCNA. Show all posts

Wednesday, November 21, 2018

Konfigurasi dasar PPPoE Server & Client Cisco

Febriyan Net - Salah satu teknologi WAN yang paling sering digunakan sampai saat ini yaitu teknologi PPPoE, agar perangkat lawan dapat terhubung dengan perangkat kita, perangkat lawan harus melalukan authentikasi terlebih dahulu berupa username dan password yang tersimpan di PPPoE Server. Ada 2 mode perangkat di dalam jaringan PPPoE, PPPoE server dan client, PPPoE Server merupakan perangkat yang akan menerima permintaan koneksi dari PPPoE Client, PPPoE Client merupakan perangkat yang akan meminta koneksi kepada PPPoE Server yang biasanya harus mempunyai username dan password. Teknologi ini sering dipakai oleh para penyedia internet atau ISP untuk memberikan koneksi ke para pelanggannya. Setiap pelanggan mempunyai satu username dan password yang nantinya digunakan untuk dialup, dan jika username dan password tersebut benar, maka pelanggan akan mendapatkan koneksi internet melalui PPPoE tersebut.

Berikut topologi nya :

Gambar 1 Topologi PPPoE

Disini, perangkat yang akan bertindak sebagai PPPoE Server adalah RTR-1 dan yang bertindak sebagai PPPoE Client adalah RTR-2. Karena pada artikel ini masih konfigurasi dasar, kita masih belum menggunakan authentikasi berupa username dan password. Cukup sampai Koneksi PPPoE terjalin antara kedua router ini tanpa melalui authentikasi.

RTR-1 (PPPoE Server)
vpdn enable
!
interface Ethernet0/0
 ip address 192.168.1.1 255.255.255.252
 pppoe enable group global
 no shutdown
!
bba-group pppoe global
 virtual-template 1
!
interface Virtual-Template1
 ip unnumbered Ethernet0/0
 encapsulation ppp
Interface Virtual template inilah yang akan digunakan si router untuk berkomunikasi dengan PPPoE Client. ip unnunmbered artinya ip address dari interface ini akan menyesuaikan dengan Ethernet0/0 yaitu 192.168.1.1

RTR-2 (PPPoE Client)
interface Ethernet0/0
 pppoe enable
 pppoe-client dial-pool-number 1
 no shutdown
!
interface Dialer1
 ip address 192.168.1.2 255.255.255.252
 encapsulation ppp
 dialer pool 1
Dialer disini digunakan untuk dial up ke PPPoE Server, sehingga alamat ip di definisikan di interface ini.
Tunggu sebentar sampai jalur PPPoE terkoneksi dengan sempurna, biasanya jika jalur pppoe sudah terbentuk dengan benar, akan muncul pemberitahuan seperti berikut di RTR-2 menandakan interface virtual untuk jalur PPPoE sudah hidup.

RTR-2
RTR-2(config-if)#
*Mar  1 00:01:43.627: %LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Virtual-Access2, changed state to up

Untuk pengujian, bisa dengan cek koneksi dari RTR-2 ke RTR-1 atau sebaliknya dengan menggunakan ping.

RTR-2
RTR-2#ping 192.168.1.1

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 192.168.1.1, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 68/69/72 ms
RTR-2#

Hasil ping menunjukkan RTR-2 dengan RTR-1 sudah terkoneksi dengan baik melalui jaringan PPPoE.

Terimakasih
Read more

Thursday, August 23, 2018

Lab 20 : DHCP Snooping Cisco

Febriyan Net - Lanjut lagi salah satu materi CCNA RS, salah satu fitur untuk mengamankan jaringan kita dari serangan DHCP Server Asli ataupun DDOS dari DHCP CLIENT, jadi semisal kita buat jaringan dengan pengalamatan ip untuk client menggunakan sistem DHCP seperti gambar berikut :

Gambar 1 Topologi Konvensional
Pada setiap komputer di jaringan LAN, dia akan selalu mendapatkan ip secara otomatis dari si DHCP Server, itu normal karena hanya ada satu router yang menjadi dhcp server.

Gambar 2 1 DHCP Server

Sekarang bagaimana apabila ada orang yang iseng membuat dhcp server palsu, agar komputer client tidak mendapatkan ip dari si dhcp server utama, melainkan mendapatkan alamat ip dari si dhcp server yang palsu .

Gambar 3 2 DHCP Server
Jika terdapat 2 dhcp server yang berjalan bersamaan, biasanya si client akan mendapatkan alamat ip secara otomatis dari dhcp server yang paling cepat melakukan Offer ke jaringan LAN. Ini akan sangat berbahaya untuk jaringan lokal kita jika ternyata komputer LAN kita mendapatkan ip dari si dhcp server yang palsu, bisa saja traffik yang seharus nya melewati router utama, malah jadi lewat router palsu, dan informasi2 yang seharus nya aman malah bocor di router lain .

Agar kondisi mengerikan ini tidak terjadi, kita bisa menerapkan fitur DHCP Snooping pada jaringan lokal kita. DHCP Snooping nanti diterapkan di sisi switch, karena switch lah yang menjadi perantara antara dhcp server yang asli dan yang palsu.

Cara kerja DHCP Snooping adalah dengan hanya menerima DHCP Offer atau DHCP Ack atau pengiriman IP dari server ke client pada interface tertentu.  Sehingga jika ada dhcp server yang menyamar dan asal colok di switch, dia tidak akan bisa memberikan ip , karena interface yang boleh memberikan ip alias yang terhubung ke dhcp server utama sudah di daftarkan oleh si admin.

Jadi di dalam switch yang menerapkan DHCP Snooping, ada 2 istilah interface, pertama, interface yang terhubung ke dhcp utama disebut Trusted, kedua, interface yang terhubung ke client, disebut Untrusted.

Di interface trusted inilah kita bisa colokkan ke si DHCP Server utama, sedangkan pada interface yang menjadi untrusted, colokkan ke komputer yang menjadi client.

Gambar 4 Trusted dan Untrusted
Sehingga, jika si dhcp server mencolokkan dirinya ke interface yang termasuk Untrusted, maka si dhcp server tidak akan bisa memberikan IP ke komputer komputer client, karena pada interface yang menjadi untrusted, tidak menerima yang namanya DHCP Offer dan DHCP Knowledged . Dan akhirnya pun, si komputer LAN hanya akan mendapatkan ip dari si dhcp server utama . Oke, sekarang kita masuk ke konfigurasi, topologi nya adalah sebagai berikut :

Gambar 5 Topologi Lab
Pastikan, kita sudah mengonfigurasi router yang menjadi dhcp server, untuk pada topologi kali ini , si DHCP Server asli akan memberikan alamat ip dari 192.168.1.2 - 192.168.1.254 , dan si dhcp server akan memberikan alamat ip dari 192.168.2.2 - 192.168.2.254 .

Sekarang, sebelum ke konfigurasi dhcp snooping, kita coba dulu di sisi komputer LAN agar dia meminta alamat ip dhcp. Setelah kita cobak minta ip ternyata hasilnya terkadang si pc dapet ip dari dhcp server palsu, kadang dapat ip dari dhcp server asli.

Percobaan pertama :

PC


C:\>ipconfig

FastEthernet0 Connection:(default port)

   Link-local IPv6 Address.........: FE80::203:E4FF:FEBB:41D4
   IP Address......................: 192.168.2.2
   Subnet Mask.....................: 255.255.255.0
   Default Gateway.................: 192.168.2.1


C:\>

Percobaan kedua :

PC


C:\>ipconfig

FastEthernet0 Connection:(default port)

   Link-local IPv6 Address.........: FE80::203:E4FF:FEBB:41D4
   IP Address......................: 192.168.1.5
   Subnet Mask.....................: 255.255.255.0
   Default Gateway.................: 192.168.1.1


C:\>

Nah, kita pengen biar si PC hanya mendapatkan ip dari DHCP Server utama alias ip antara 192.168.1.2 - 192.168.1.254 . Kita harus tentukan dulu interface mana yang jadi Trusted Interface, dan interface mana yang jadi Untrusted Interface. jika dilihat ditopologi, yang jadi trusted interface adalah FastEthernet0/1 .

Switch


Switch(config)#ip dhcp snooping 
Switch(config)#ip dhcp snooping vlan 1

Switch(config)#no ip dhcp snooping information option
Switch(config)#


Sampai tahap ini si dhcp snooping sudah aktif :

Switch


Switch#show ip dhcp snooping 
Switch DHCP snooping is enabled
DHCP snooping is configured on following VLANs:
1
Insertion of option 82 is enabled
Option 82 on untrusted port is not allowed
Verification of hwaddr field is enabled
Interface                  Trusted    Rate limit (pps)
-----------------------    -------    ----------------
Switch#

Dalam kondisi sekarang, semua interface yang ada di switch akan menjadi Untrusted Port, jadi kita hanya perlu mendaftarkan port yang menjadi Trusted port saja :

Switch


Switch(config)#interface fa0/1
Switch(config-if)#ip dhcp snooping trust 
Switch(config-if)#exit

Switch(config)#

Simple bukan ?

Switch


Switch#show ip dhcp snooping 
Switch DHCP snooping is enabled
DHCP snooping is configured on following VLANs:
1
Insertion of option 82 is enabled
Option 82 on untrusted port is not allowed
Verification of hwaddr field is enabled
Interface                  Trusted    Rate limit (pps)
-----------------------    -------    ----------------
FastEthernet0/1            yes        unlimited     

Switch#

Sekarang saat nya pengujian di sisi pc client nya . kita cobak minta ip kembali .
Percobaan pertama :

PC


C:\>ipconfig

FastEthernet0 Connection:(default port)

   Link-local IPv6 Address.........: FE80::203:E4FF:FEBB:41D4
   IP Address......................: 192.168.1.4
   Subnet Mask.....................: 255.255.255.0
   Default Gateway.................: 192.168.1.1


C:\>

Percobaan kedua:

PC


C:\>ipconfig

FastEthernet0 Connection:(default port)

   Link-local IPv6 Address.........: FE80::203:E4FF:FEBB:41D4
   IP Address......................: 192.168.1.3
   Subnet Mask.....................: 255.255.255.0
   Default Gateway.................: 192.168.1.1


C:\>

Nah, si PC akhirnya terus dapet ip sesuai yang kita harapkan.

Okeh, lanjut ke fitur dhcp snooping lain, yaitu mengamankan port switch dari DDOS dhcp request yang menuju ke dhcp server, jadi intinya, si penyerang akan mengirim banyak sekali dhcp request ke dhcp server, sehingga si dhcp server akan mengalokasikan ip sesuai dengan jumlah request yang di minta penyerang, jika ternyata si penyerang membanjiri request ke dhcp server, kemudian semua ip telah dialokasikan ke penyerang yang tak bertanggung jawab itu, komputer client yang seharusnya mendapatkan ip malah jadinya tak dapat alamat ip .

Caranya yaitu dengan membatasi atau melimit jumlah dhcp request yang ada pada interface yang mengarah ke client atau si penyerang. Jadi, kita akan membatasi maksimal berapa dhcp request yang bisa masuk ke interface switch dalam kurun waktu 1 detik. Contoh kita akan membatasi dhcp request yang mengarah ke pc client menjadi maksimal hanya 2 dhcp request perdetik .

Switch


Switch(config)#int fa0/2
Switch(config-if)#ip dhcp snooping limit rate 2
Switch(config-if)#exit

Switch(config)#


Verifikasinya :

Switch


Switch#show ip dhcp snooping 
Switch DHCP snooping is enabled
DHCP snooping is configured on following VLANs:
1
Insertion of option 82 is disabled
Option 82 on untrusted port is not allowed
Verification of hwaddr field is enabled
Interface                  Trusted    Rate limit (pps)
-----------------------    -------    ----------------
FastEthernet0/1            yes        unlimited     
FastEthernet0/3            no         unlimited     
FastEthernet0/2            no         2            

Switch#

Sekarang kita buktikan dengan cara si pc client terus menerus meminta ip dhcp. Apa yang akan terjadi ?

Switch


Switch(config-if)#00:26:31: %DHCP_SNOOPING-4-DHCP_SNOOPING_ERRDISABLE_WARNING: DHCP Snooping received 3 DHCP packets on interface Fa0/2
00:26:31: %PM-4-ERR_DISABLE: dhcp-rate-limit error detected on Fa0/2, putting Fa0/2 in err-disable state

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/2, changed state to down

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/2, changed state to down


Switch(config-if)#

Dan ternyata, interface tadi secara otomatis tershutdown by sistem. Dan si penyerang pun gagal menyerang.

Terimakasih
Read more

Lab 19 : BPDU Guard Pada Cisco

Febriyan Net - Baik, kali ini kita akan belajar salah satu materi di silabus CCNA RS, yaitu BPDU Guard . Apa itu BPDU ? BPDU singkatan dari Bridge Protocol Data Unit, merupakan salah satu protokol yang digunain buat mendeteksi Looping dalam jaringan layer 2. Ini berarti ada hubungannya sama STP ya ? betul, BPDU dan STP merupakan satu kesatuan. Jadi cara setiap switch mendeteksi adanya looping atau tidak dalam jaringannya adalah dengan cara mengirim dan menerima si BPDU ini, jadi setiap switch yang termasuk dalam STP akan mengirim BPDU ke switch lainnya untuk mendeteksi jika adanya looping.

Jika dalam jaringan Cisco, STP akan secara aktif pada setiap interface di switch cisco, jadi di setiap interface switch cisco akan secara otomatis mengirim dan menerima BPDU setiap interface itu terhubung ke suatu perangkat. Nah, proses menerima dan mengirim BPDU ini akan memakan waktu interface untuk benar benar bisa hidup sempurna, kira kira, setiap interface pada switch cisco akan membutuhkan waktu 50 detik untuk proses menerima dan mengirim BPDU ini, setelah selesai, baru interface tersebut baru bisa melewatkan sebuah data, alias baru bisa digunakan.

Proses ini akan sangat menguntungkan jika interface yang diaktifkan BPDU terhubung ke perangkat yang mendukung STP yang akan mencegah looping contoh nya Switch Cisco yang lain. Tapi akan sangat merugikan jik mengaktifkan stp atau bpdu di interface yang terhubung ke perangkat end devices, contohnya Laptop, PC, Printer, Dll. Karena ketika interface pada switch tercolok ke PC, tidak bisa langsung terhubung, harus menunggu dulu sekitar 50 detik. Contoh ruginya kalau kita menerapkan sistem dhcp yang menuju ke komputer client, akan 2 proses yang berjalan di client, yaitu menunggu si STP di switch selesai (50 detik), dan juga menunggu mendapatkan IP dhcp, entah berapa detik total yang akan digunakan client agar dia bisa konek ke internet.

Nah, agar si client cepat konek ke internet, alias nggak perlu pake pake fitur BPDU di interface switchnya, kita bisa mematikan proses BPDU ini, dengan menggunakan fitur Portfast. Jadi, jika menggunakan portfast, si interface di switch tidak mengirim maupun menerima BPDU, alias tidak perlu menunggu selama 50 detik, si PC bisa langsung konek ke switch dan bisa lansung konek ke internet. Dan juga ingat, pastikan kita mengaktifkan Fitur Portfast di interface yang terhubung ke End Devices, bukan ke perangkat yang dapat beresiko terjadinya looping seperti switch.

Masalahnya disini jika sudah mengaktifkan fitur Portfast di suatu interface di switch kita harus selalu mencolokkan interface itu ke end devices, jika kita mencolokkan interface itu ke switch lain, maka beresiko terjadi looping, karena si switch tidak mengirim maupun menerima BPDU yang berfungsi mencegah loooping di jaringan.

Nah, ada solusi biar walaupun suatu interface sudah diaktifkan fitur Portfast nya, tapi tetap ingin mencegah looping di jaringan. Yaitu Dengan menggunakan BPDU Guard . Yap, singkatnya bpdu guard ini berfungsi untuk berjaga berjaga, jika misalnya ada perangkat switch yang mencolok ke interface yang sudah di aktifkan portfastnya, maka interface tersebut akan langsung mati, kalau mati berarti tidak jadi looping kan .

Gambar ketika interface di switch diaktifkan BPDU guardnya :

Gambar 2 BPDU Guard ke PC
Interface akan tetap hidup dan tak perlu menunggu 50 detik, kemudian ketika ternyata interface yang sama di colok ke perangkat yang beresiko terjadi looping (switch) :

Gambar  3 BPDU Guard ke Switch
Secara otomatis, interface yang mengarah ke switch itu akan mati. alias Shutdown By Administrator . Looping pun berhasil di atasi dengan fitur ini .

Nah, untuk konfigurasi BPDU nya pun cukup mudah, untuk percobaan, cobak kita buktikan di packet tracer, jadi topologi nya seperti ini :

Gambar 4 Switch ke PC
Terlihat bahwa interface tidak langsung aktif, alias berwarna orange dulu selama 50 detik. setelah 50 detik, baru hijau alias baru bisa melewatkan data. Sekarang cobak kita kasih portfast ke interface itu biar nggak perlu waktu 50 detik alias nggak perlu ngirim maupun nerima si BPDU.

SW1


SW1(config)#interface fastEthernet 0/1
SW1(config-if)#spanning-tree portfast 
%Warning: portfast should only be enabled on ports connected to a single
host. Connecting hubs, concentrators, switches, bridges, etc... to this
interface  when portfast is enabled, can cause temporary bridging loops.
Use with CAUTION

%Portfast has been configured on FastEthernet0/1 but will only
have effect when the interface is in a non-trunking mode.
SW1(config-if)#exit

SW1(config)#

Terlihat ada peringatan bahwa tidak boleh mengaktifkan fitur portfast ke interface yang mengarah ke perangkat switch lain. Kemudian untuk membuktikan apakah tidak perlu membutuhkan waktu 50 detik. cobak cabut kabel kemudian colokkan kembali.

Gambar 5 Switch Portfast
Nah, langsung hijau bukan ? tak perlu nunggu 50 detik. Nah, gimana biar portfast tetep berjalan di interface, tapi kita pengen nyolok interface itu ke perangkat seperti switch ? . Ketika itulah BPDU Guard di gunakan. Untuk konfigurasinya sendiri adalah sebagai berikut :

SW1


SW1(config)#interface fastEthernet 0/1
SW1(config-if)#spanning-tree bpduguard enable 
SW1(config-if)#exit

SW1(config)#

Okeh, sekarang kita cek, hubungkan interface tadi ke PC, apakah masih tak perlu nungu 50 detik ?

Gambar 6 BPDU Guard PC
Oke, fitur Portfast nya masih jalan. Sekarang cobak hubungkan ke perangkat Switch.

Gambar 7 BPDU Guard ke Switch
Dan, akhirnya pun interface yang ngarah ke switch secara otomatis ke shutdown. Ini berguna untuk mencegah looping, karena si interface nggak mengirim maupun menerima packet BPDU . Jika kita cek :

SW1


SW1#sh interfaces fa0/1
FastEthernet0/1 is down, line protocol is down (err-disabled)
  Hardware is Lance, address is 0001.975d.7b01 (bia 0001.975d.7b01)
 BW 100000 Kbit, DLY 1000 usec,
     reliability 255/255, txload 1/255, rxload 1/255
  Encapsulation ARPA, loopback not set
  Keepalive set (10 sec)
  Full-duplex, 100Mb/s
  input flow-control is off, output flow-control is off
  ARP type: ARPA, ARP Timeout 04:00:00
.........


SW1#

Terlihat bahwa interface tersebut berstatus err-disabled, karena di matikan oleh si BPDU Guard.

Terimakasih
Read more

Wednesday, August 15, 2018

Lab 18 : Memisahkan Trafik dual LAN dan Failover dual ISP menggunakan Cisco IP SLA

Febriyan Net - Setelah dulu pernah belajar tentang failover namun di vendor mikrotik (Dapat dibaca di MTCRE : Fail Over menggunakan gateway yang tidak terhubung langsung (Recursive) dan memisahkan jalur modem), kali ini kita akan belajar bagaimana memisahkan traffik LAN dan juga sekaligus membuat failover untuk WAN di perangkat Cisco menggunakan IP SLA . Failover sangat berguna sekali jika kita membutuhkan koneksi yang harus terus lancar, kita dapat memanfaatkan 2 atau lebih jalur internet, sehingga jika  jalur internet utama mati, maka akan ada yang menjadi pengganti atau cadangannya . Untuk gambaran topologi nya adalah sebagai berikut :

Gambar 1 Topologi Failover
Oke, jadi seolah ada Server yang akan menjadi indikator internet mati atau tidak, yaitu server 8.8.8.8 dan 8.8.4.4 . Server 8.8.8.8 akan kita gunakan sebagai indikator Hidup Tidak nya internet di ISP A , dan server 8.8.4.4 akan kita gunakan sebagai indikator hidup tidaknya internet di ISP B . Jika semisal Router utama gagal mengirim ICMP (Ping) ke salah satu server tadi, maka router akan menggap bahwa internet di jalur ISP tersebut telah down atau mati, jadi si router akan melakukan failover menuju jalur backup .

Untuk tujuannya sendiri, pertama kita akan memisahkan traffik dari si LAN , yaitu komputer yang ada di jaringan LAN A, dia akan menggunakan ISP A sebagai jalur utama nya, dan ISP B sebagai backup nya . Gambarannya seperti berikut :

Gambar 2 Jalur internet ISP A Down
Dan juga sebaliknya, untuk komputer yang ada di LAN B jalur utama internetnya akan melalui ISP B, dan jika ternyata internet di ISP B down, maka otomatis akan berpindah ke jalur backup yaitu ISP A , gambarannya sebagai berikut :

Gambar 3 Jalur Internet ISP B Down
Okeh, langsung masuk ke konfigurasi ya , untuk Target pertama adalah agar kedua komputer LAN A dan LAN B bisa menggunakan jalur internet dari ISP A maupun ISP B untuk menuju ke Internet (8.8.8.1) .

Setting internet di router utama terlebih dahulu agar router bisa konek ke server 8.8.8.8 maupun 8.8.4.4 . Karena pada topologi diatas si modem sudah menyediakan ip secara dhcp, si router tinggal meminta ip saja, dan perlu di perhatikan bahwa tambahkan opsi tidak meminta default gateway secara otomatis dari dhcp server , karena kita ingin mensett menual si default gateway nya nanti .

R4

R4(config)#int fa0/0
R4(config-if)#no ip dhcp client request router
R4(config-if)#ip address dhcp
R4(config-if)#no shutdown
R4(config-if)#exit
R4(config)#int fa1/0
R4(config-if)#no ip dhcp client request router
R4(config-if)#ip address dhcp
R4(config-if)#no shutdown
R4(config-if)#exit

Pastikan setelah mengkonfigurasi dhcp client, si router berhasil mendapatkan alamat ip secara otomatis dari modem masing masing ISP.

R4

R4#show ip interface brief
Interface                  IP-Address      OK? Method Status                Protocol
FastEthernet0/0            192.168.1.2     YES DHCP   up                    up
FastEthernet1/0            192.168.2.2     YES DHCP   up                    up
Ethernet2/0                unassigned      YES unset  administratively down down
Ethernet2/1                unassigned      YES unset  administratively down down
....


Pastikan juga, router utama tidak mendapatkan default gatewat dari dhcp server :

R4

R4#show ip route
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
      D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
      N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
      E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
      i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
      ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
      o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.2.0/24 is directly connected, FastEthernet1/0
R4#

Sekarang pastikan router utama bisa terhubung ke server 8.8.8.8 dan 8.8.4.4 melalui ISP A :

R4

R4(config)#ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.1.1
R4(config)#do ping 8.8.8.8

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 8.8.8.8, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/89/96 ms
R4(config)#do ping 8.8.4.4
Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 8.8.4.4, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 96/100/112 ms
R4(config)#no ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.1.1
R4(config)#


Sekarang lanjut pastikan router utama bisa terhubung ke server 8.8.8.8 melalui ISP B :

R4

R4(config)#ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.2.1
R4(config)#do ping 8.8.8.8

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 8.8.8.8, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 64/102/160 ms
R4(config)#do ping 8.8.4.4

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 8.8.4.4, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 96/117/164 ms
R4(config)#no ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.2.1
R4(config)#

Okeh, semua jalur ISP lancar . sekarang waktunya konfigurasi agar semua LAN bisa menggunakan kedua ISP (bukan bersamaan) .  Sett IP yang munuju jaringan LAN terlebih dahulu :

R4

R4(config)#interface ethernet 2/0
R4(config-if)#ip address 172.16.1.1 255.255.255.0
R4(config-if)#no shutdown
R4(config-if)#exit
R4(config)#interface ethernet 2/1
R4(config-if)#ip address 172.16.2.1 255.255.255.0
R4(config-if)#no shutdown
R4(config-if)#exit
R4(config)#ip dhcp pool LAN-A
R4(dhcp-config)#network 172.16.1.0 /24
R4(dhcp-config)#default-router 172.16.1.1
R4(dhcp-config)#exit
R4(config)#ip dhcp pool LAN-B
R4(dhcp-config)#network 172.16.2.0 /24
R4(dhcp-config)#default-router 172.16.2.1
R4(dhcp-config)#exit

Pastikan komputer LAN A dan LAN B mendapatkan ip secara otomatis :

PC LAN A

PC-1> ip dhcp
DDORA IP 172.16.1.2/24 GW 172.16.1.1

PC-1>

PC LAN B

PC-2> ip dhcp
DDORA IP 172.16.2.2/24 GW 172.16.2.1

PC-2>

Selanjutkan konfigurasi agar kedua PC dapat terhubung ke internet menggunakan NAT di router utama. Buat access list terlebih dahulu untuk mendaftarkan network dari kedua LAN :

R4

R4(config)#access-list 1 permit 172.16.1.0 0.0.0.255
R4(config)#access-list 2 permit 172.16.2.0 0.0.0.255
R4(config)#

Setelah itu buat route-map agar nanti kedua jaringan LAN bisa melewati kedua ISP :

R4

R4(config)#route-map ISP-A permit
R4(config-route-map)#match ip address 1 2 
R4(config-route-map)#match interface fa0/0R4(config-route-map)#exit
R4(config)#route-map ISP-B permit
R4(config-route-map)#match ip address 1 2
R4(config-route-map)#match interface fa1/0R4(config-route-map)#exit
R4(config)#

Selanjutnya buat rule NAT :

R4

R4(config)#ip nat inside source route-map ISP-A interface fa0/0 overload
R4(config)#ip nat inside source route-map ISP-B interface fa1/0 overload
R4(config)#

Jangan lupa untuk memasang NAT di interface, untuk interface yang mengarah ke internet disebut outside, dan interface yang mengarah ke jaringan lokal atau LAN disebut inside .

R4

R4(config)#int fa0/0
R4(config-if)#ip nat outside ## untuk ISP A
R4(config-if)#exit
R4(config)#int fa1/0
R4(config-if)#ip nat outside ## untuk ISP B
R4(config-if)#exit
R4(config)#int e2/0
R4(config-if)#ip nat inside ## untuk LAN A
R4(config-if)#exit
R4(config)#int e2/1
R4(config-if)#ip nat inside ## untuk LAN B
R4(config-if)#exit
R4(config)#

Okeh, sekarang kita uji coba NAT yang sudah kita buat, pertama, arahkan jalur utama untuk menuju ISP A terlebih dahulu, kemudian uji coba ping ke internet dari komputer kedua LAN .

R4

R4(config)#ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.1.1
R4(config)#

PC LAN A

PC-1> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.1.1   2.702 ms  9.679 ms  9.186 ms
2   192.168.1.1   19.818 ms  19.947 ms  20.073 ms
3   10.11.11.1   29.217 ms  30.019 ms  29.953 ms
4   8.8.8.8   39.652 ms  39.906 ms  40.119 ms

PC-1>

PC LAN B

PC-2> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.2.1   9.938 ms  9.473 ms  10.037 ms
2   192.168.1.1   19.691 ms  19.959 ms  20.012 ms
3   10.11.11.1   29.191 ms  29.938 ms  29.685 ms
4   8.8.8.8   39.538 ms  39.826 ms  40.172 ms

PC-2>

Okeh, kedua LAN berhasil terhubung ke internet melalui ISP A, lanjut ganti jalur utama ke ISP B kemudian cek internet di kedua LAN :

R4

R4(config)#no ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.1.1
R4(config)#ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.2.1

PC LAN A

PC-1> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.1.1   2.844 ms  9.768 ms  39.510 ms
2   192.168.2.1   60.049 ms  19.294 ms  19.361 ms
3   10.22.22.1   29.498 ms  59.493 ms  59.956 ms
4   8.8.8.8   70.449 ms  69.620 ms  39.700 ms

PC-1>

PC LAN B

PC-2> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.2.1   4.351 ms  9.190 ms  9.777 ms
2   192.168.2.1   29.419 ms  30.086 ms  29.957 ms
3   10.22.22.1   39.864 ms  40.244 ms  39.741 ms
4   8.8.8.8   40.065 ms  39.312 ms  39.585 ms

PC-2>

Oke, kedua LAN sudah bisa lewat ISP A maupun ISP B , hapus dulu default route yang terakhir kita buat :

R4

R4(config)#no ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 192.168.2.1
R4(config)#

Sekarang saatnya mulai mengkonfigurasi untuk failover nya, pertama, buat dulu statik route agar ketika router ingin menjangkau 8.8.8.8 maka akan menggunakan jalur ISP A, sebaliknya, jika router ingin menjangkau 8.8.4.4 akan melewati ISP B :

R4

R4(config)#ip route 8.8.8.8 255.255.255.255 192.168.1.1
R4(config)#ip route 8.8.4.4 255.255.255.255 192.168.2.1
R4(config)#

Kita uji kembali menggunakan tracer :

R4

R4(config)#do tracer 8.8.8.8

Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 8.8.8.8

 1 192.168.1.1 68 msec 68 msec 68 msec
 2 10.11.11.1 64 msec 64 msec 68 msec
 3 8.8.8.8 96 msec 100 msec 96 msec
R4(config)#do tracer 8.8.4.4

Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 8.8.4.4

 1 192.168.2.1 32 msec 24 msec 12 msec
 2 10.22.22.1 20 msec 20 msec 20 msec
 3 8.8.4.4 20 msec 40 msec 20 msec
R4(config)#

Sekarang buat IP SLA, agar tiap 10 detik, router akan mengirim icmp (ping) ke server  8.8.8.8 dan 8.8.4.4 untuk memonitoring jalur internet ISP :

R4

R4(config)#ip sla monitor 1  
R4(config-sla-monitor)#type echo protocol IcmpEcho 8.8.8.8 source-interface fastEthernet 0/0
R4(config-sla-monitor-echo)#frequency 10
R4(config-sla-monitor-echo)#exit
R4(config)#ip sla monitor 2    
R4(config-sla-monitor)#type echo protocol IcmpEcho 8.8.4.4 source-interface fastEthernet 1/0
R4(config-sla-monitor-echo)#frequency 10
R4(config-sla-monitor-echo)#exit
R4(config)#ip sla monitor schedule 1 start-time now life forever
R4(config)#ip sla monitor schedule 2 start-time now life forever
R4(config)#

Sekarang buat Track agar dapat menghandle terjangkau tidaknya hasil dari ping SLA tadi :

R4

R4(config)#track 1 rtr 1 reachability  
R4(config-track)#exit
R4(config)#track 2 rtr 2 reachability
R4(config-track)#exit
R4(config)#

Kalau ingin melihat hasil ping terakhir , bisa menggunakan perintah :

R4

R4#show track
Track 1
 Response Time Reporter 1 reachability
 Reachability is Up
   1 change, last change 00:00:51
 Latest operation return code: OK
 Latest RTT (millisecs) 31
Track 2
 Response Time Reporter 2 reachability
 Reachability is Up
   1 change, last change 00:00:44
 Latest operation return code: OK
 Latest RTT (millisecs) 19
R4#

Terlihat bahwa kedua track atau kedua ISP internet nya masih Up, karena masih berhasil ping ke 8.8.8.8 melalui isp a ataupun 8.8.4.4 yang melalui isp b , sekarang cobak kita putus salah satu jalur internet isp a :

Gambar 4 Jalur ISP A Down
Kemudian cek kembali track nya :

R4

R4#show track
Track 1
 Response Time Reporter 1 reachability
 Reachability is Down
   2 changes, last change 00:00:43
 Latest operation return code: Timeout
Track 2
 Response Time Reporter 2 reachability
 Reachability is Up
   1 change, last change 00:03:06
 Latest operation return code: OK
 Latest RTT (millisecs) 39
R4#

Nah, ternyata status dari track 1 menunjukkan bahwa hasil ping gagal dan berubah status yang sebelum nya Up menjadi Down , status inilah yang akan kita gunakan sebagai acuan failover menggunakan route-map .

R4

R4(config)#route-map LAN-A permit
R4(config-route-map)#match ip address
R4(config-route-map)#set ip next-hop verify-availability 192.168.1.1 1 track 1   
R4(config-route-map)#set ip next-hop 192.168.2.1                         
R4(config-route-map)#exit
R4(config)#route-map LAN-B permit
R4(config-route-map)#match ip address 2
R4(config-route-map)#set ip nex
R4(config-route-map)#set ip next-hop ver
R4(config-route-map)#set ip next-hop verify-availability 192.168.2.1 1 track 2
R4(config-route-map)#set ip next-hop 192.168.1.1
R4(config-route-map)#exit
R4(config)#

Sekarang taruh route-map di interface LAN masing masing :

R4

R4(config)#int e2/0
R4(config-if)#ip policy route-map LAN-A
R4(config-if)#exit
R4(config)#int e2/1
R4(config-if)#ip policy route-map LAN-B
R4(config-if)#exit
R4(config)#

Okeh, saatnya uji coba, kita uji dahulu dari LAN A dengan kondisi ISP A masih normal :

PC LAN A

PC-1> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.1.1   39.275 ms  39.615 ms  39.836 ms
2   192.168.1.1   50.239 ms  80.411 ms  49.463 ms
3   10.11.11.1   59.678 ms  60.126 ms  60.103 ms
4   8.8.8.8   69.625 ms  39.499 ms  70.027 ms

PC-1>

Kemudian saya putus jalur internet ISP A :

PC LAN A 

PC-1> tracer 8.8.8. -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.1.1   6.511 ms  39.406 ms  39.704 ms
2   192.168.2.1   50.134 ms  49.997 ms  49.815 ms
3   10.22.22.1   29.637 ms  59.444 ms  59.881 ms
4   8.8.8.8   70.355 ms  70.402 ms  70.464 ms

PC-1>

Dan akhirnya, jalur nya berpindah ke ISP B yang menjadi backup . Sekarang uji coba yang LAN B :

PC LAN B

PC-2> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.2.1   40.085 ms  9.179 ms  39.918 ms
2   192.168.2.1   30.211 ms  50.257 ms  50.149 ms
3   10.22.22.1   60.213 ms  49.581 ms  60.338 ms
4   8.8.8.8   39.709 ms  40.156 ms  69.847 ms

PC-2>

Setelah jalur internet ISP B dimatikan :

PC LAN B

PC-2> tracer 8.8.8.8 -P 6
trace to 8.8.8.8, 8 hops max (TCP), press Ctrl+C to stop
1   172.16.2.1   10.623 ms  39.338 ms  39.774 ms
2   192.168.1.1   80.352 ms  80.057 ms  79.504 ms
3   10.11.11.1   59.905 ms  59.507 ms  60.239 ms
4   8.8.8.8   39.641 ms  69.995 ms  70.098 ms

PC-2>

Dan dia pun lewat jalur ISP A . Okeh, konfigurasi Failover kita sudah berhasil .

Terimakasih


Read more

Thursday, May 10, 2018

CCNA : Type LSA dan Area Spesial OSPF (Stub, Totally Stub, dan Not So Stubby Area)


Febriyan Net - Dalam OSPF, masing masing router yang tergabung ke jaringan OSPF akan memiliki topologi dari area ospf router itu sendiri, ini akan sangat berguna agar ketika salah satu jalur down, maka router akan dapat memilih jalur terbaik sendiri tanpa harus mengirim query kembali ke semua router. Namun, Semakin banyak area dan router yang ada pada jaringan OSPF, maka dalam penggambaran topology atau pencarian jalur terbaik akan memakan banyak resource jika dilakukan persatu router di jaringan OSPF . Maka dari itu, OSPF membagi jaringannya dalam beberapa AREA, agar satu persatu router tidak perlu menggambar topologi seluruh jaringan OSPF , router OSPF hanya perlu mengetahui topology satu area nya saja . Sehingga resource pada masing masing router akan lebih ringan. Nah, kalo dipikir pikir lagi, kalau satu router tidak mengetahui topologi area lain, terus kalau router itu mau terhubung dan mengetahui jalur terbaik ke router di area lain gimana tuh ? Nah, itulah yang akan kita bahas kali ini

Pertama, kita harus mengetahui dulu istilah istilah router pada OSPF agar nanti selanjutnya dalam pemaparan tidak terlalu canggung .

  • IR ( Internal Router ) : Router router yang ada di dalam suatu area
  • DR ( Designated Router ) : Router yang menjadi ayah bagi IR , fungsinya DR yaitu untuk menerima dan mendistribusikan Topologi atau LSA dari semua router ke semua router dari satu area, sehingga meringankan penggunaan resource dari IR yang lain, karena satu persatu IR tidak perlu mendistribusikan ke semua IR, hanya perlu mengirim ke DR, nanti DR yang mendisitribusikan ke semua router, ini juga meringankan flooding traffik karena bersifat broadcast .
  • BDR ( Backup Designated Router ) : Router cadangan jika DR utama mati atau down
  • ABR ( Area Border Router ) : Router yang menjadi jembatan antara satu area ke area lain, sehingga dalam satu router ini, terkonfigurasi 2 atau lebih area.
  • ASBR ( Autonomous System Boundary Router ) : Kalau ABR menjadi jembatan antar area yang masih dalam satu jaringan OSPF atau Autonomous System . Maka kalau ASBR dia menjadi jembatan jaringan routing OSPF ke jaringan routing lain misalnya EIGRP, BGP, RIPV1, RIPV2, dan routing dinamis lain .
Oke, sebelumnya apa itu LSA ? LSA kepanjangan dari Link State Advertisement  yaitu Suatu pendistribusian keadaan jalur atau router dalam satu area ospf yang biasanya didalam LSA ini terdapat LSP (Link State Packet). LSA ini lah yang digunakan untuk membangun gambaran topology pada suatu area yang hanya di distribusikan ke DR maupun BDR yang nantinya akan di distribusikan kembali ke semua router anggota area ospf tersebut .

Sebenarnya ada sekitar lebih dari 7 type LSA ospf, tetapi kali ini kita hanya membahas LSA type 1 sampai 7 saja karena type type inilah yang biasa nya digunakan dalam OSPF . Berikut type type LSA pada jaringan OSPF :
  1. Type 1 ( Router Link States ) : Informasi yang ada pada LSA ini yaitu Daftar router atau router id yang masih dalam satu area dan kondisi pada masing masing jalur router tersebut . Jika pada area 0 atau area backbone, lsa type 1 ini tidak hanya berisi informasi IR pada area 0 tapi juga ABR pada seluruh jaringan OSPF tersebut .
  2. Type 2 ( Net Link States ) :   Berisi Informasi Link dan Router DR yang ada pada satu area router ini .
  3. Type 3 ( Summary Net Link ) : Berisi Informasi Link area area lain yang masih dalam satu jaringan OSPF .
  4. Type 4 ( Summary ASB Link States ) : Informasi Link Router Router yang menjadi ASBR pada satu jaringan OSPF ini .
  5. Type 5 ( AS External Link States ) : Berisi Informasi link atau jalur yang berada di selain jaringan OSPF atau dalam artian jalur yang berasal dari AS Number lain . Yang mengirimkan LSA type 5 ini adalah router yang menjadi ASBR .
  6. Type 6 ( Group MemberShip ) : Saya kurang begitu faham dengan type ini, tertulis bahwa type 6 ini berisi multicast routing protocol . Dan juga type ini jarang digunakan .
  7. Type 7 ( AS External Link States ) : Inilah Informasi yang dibuat oleh router ASBR hanya saja ASBR ini berada di area NSSA (Not So Stubby Area) bukan berada di area biasa . LSA ini berisi informasi tentang kondisi link Dari Routing Protocol lain atau AS Number lain . Type 7 ini akan diubah ke type 5 jika sudah sampai ke router ABR .
Oke, itulah beberapa tipe LSA pada jaringan OSPF . Sekarang kita masuk ke jenis jenis Area Spesial Pada OSPF :
  1. Stub Area : Area ini merupakan ujung buntu dari jaringan OSPF, artinya hanya ada satu jalur saja untuk keluar dari ujung buntu ini. Fungsi dari area ini adalah untuk mengurangi resource router yang ada di area buntu, router pada area buntu ini tidak perlu mempunyai semua routing table luar dari jaringan ospf (eigrp, rip, bgp, dll). router pada stub area cukup mempunyai routing table pada satu AS OSPF nya saja sehingga dapat meringankan kinerja router tersebut. Stub Area memblokir LSA Type 4 dan 5 sehingga tidak mendapat external route dari ASBR. Kemudian bagaimana agar router ini dapat terhubung ke jaringan routing lain ? jawabannya adalah dengan default route . Ya, Stub area akan mengganti LSA Type 3 yang seharusnya berisi informasi informasi link area lain akan diganti dengan default route (0.0.0.0/0) .
  2. Totally Stub Area : Area ini hamipr sama dengan stub area, hanya saja pada area ini lebih ketat, ketat disini yaitu router tidak menerima routing table sama sekali dari area lain maupun dari AS lain. Router akan memblokir LSA Type 3,4, dan 5 . Hampir sama dengan Stub Area, LSA akan menggantinya dengan default route sehingga router Totally Stub Area ini dapat terhubung dengan jaringan luar
  3. Not So Stubby Area ( NSSA ) : Area yang tidak terlalu seperti stub area, ini merupakan area spesial buntu yang tidak menerima routing table atau LSA dari area 0 tetapi masih dapat menerima routing table dari external routing (eigrp, rip, bgp, dll) . Inilah yang akan membuat LSA Type 7.
 
Konfigurasi Stub Area

Pada contoh lab kali ini saya ingin membuat area 4 menjadi area stub . konfigurasi stub dilakukan di semua router yang berada di area 4 .


 
R8(config)#router ospf 8
R8(config-router)#area 4 stub

R33(config)#router ospf 33
R33(config-router)#area 4 stub
Sekarang kita buktikan dengan melihat database LSA router R33 apakah berhasil membuat default route ?


R33#sh ip ospf database
OSPF Router with ID (33.33.33.33) (Process ID 33)

Router Link States (Area 4)

Link ID ADV Router Age Seq# Checksum Link count
33.33.33.33 33.33.33.33 504 0x80000007 0x00fefc 2
8.8.8.8 8.8.8.8 504 0x80000006 0x00bcb4 1

Net Link States (Area 4)
Link ID ADV Router Age Seq# Checksum
19.19.19.33 33.33.33.33 504 0x80000004 0x00e92f

Summary Net Link States (Area 4)
Link ID ADV Router Age Seq# Checksum
8.8.8.8 8.8.8.8 504 0x8000005b 0x007c47
18.18.18.0 8.8.8.8 504 0x8000005c 0x00614b
22.22.22.0 8.8.8.8 504 0x8000005d 0x00296d
0.0.0.0 8.8.8.8 504 0x8000005e 0x00e7f8
15.15.15.0 8.8.8.8 394 0x8000005f 0x00e5c9
12.12.12.0 8.8.8.8 394 0x80000060 0x005a5c
11.11.11.0 8.8.8.8 394 0x80000061 0x007c3c
10.10.10.0 8.8.8.8 394 0x80000062 0x00a811
13.13.13.0 8.8.8.8 394 0x80000063 0x009412
4.4.4.4 8.8.8.8 394 0x80000064 0x004186
3.3.3.3 8.8.8.8 394 0x80000065 0x007752
1.1.1.1 8.8.8.8 394 0x80000066 0x00dbf3
2.2.2.2 8.8.8.8 394 0x80000067 0x00ab1f
7.7.7.7 8.8.8.8 394 0x80000068 0x002784
17.17.17.0 8.8.8.8 6 0x80000069 0x00752c
6.6.6.6 8.8.8.8 6 0x8000006a 0x00c4f6
5.5.5.5 8.8.8.8 6 0x8000006b 0x00fac2
16.16.16.0 8.8.8.8 6 0x8000006c 0x009d03
20.20.20.0 8.8.8.8 6 0x8000006d 0x008304
34.34.34.34 8.8.8.8 6 0x8000006e 0x003cfc
14.14.14.0 8.8.8.8 6 0x8000006f 0x006234
9.9.9.9 8.8.8.8 6 0x80000070 0x00c4d5

Nah, terdapat baris yang menunjukkan 0.0.0.0 , berarti default route berhasil dibuat . Atau bisa dengan melihat table routing .

R33#sh ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
       D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
       N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
       E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
       i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
       * - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
       P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is 19.19.19.8 to network 0.0.0.0

....
....
....

O IA    20.20.20.0 [110/16] via 19.19.19.8, 00:01:43, FastEthernet0/0
     22.0.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
O IA    22.22.22.0 [110/11] via 19.19.19.8, 01:41:37, FastEthernet0/0
     33.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
C       33.33.33.33 is directly connected, Loopback0
     34.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
O IA    34.34.34.34 [110/17] via 19.19.19.8, 00:01:43, FastEthernet0/0
O*IA 0.0.0.0/0 [110/2] via 19.19.19.8, 01:41:37, FastEthernet0/0


Terlihat default route pada baris terakhir dan menggunakan flags 0*IA .

Konfigurasi Totally Stub Area


Perintah nya adalah sebagai berikut :
R7(config)#router ospf 7
R7(config-router)#area 3 stub no-summary

R9(config)#router ospf 9
R9(config-router)#area 3 stub no-summary


Konfigurasi Not So Stubby Area


Perintahnya adalah sabagai berikut :
R8(config)#router ospf 8
R8(config-router)#area 6 nssa no-summary
R36(config)#router ospf 36
R36(config-router)#area 6 nssa no-summary

Silahkan lakukan pengujian sama seperti saat menguji stub area dan juga cek LSA table nya .
Oke, cukup itu saja. Semoga bermanfaat,
Terimakasih
Read more

Sunday, May 6, 2018

CCNA : Simple EIGRP Lab


Febriyan Net - Salah satu jenis routing protokol IGP (Interior Gateway Protocol) yang sering digunakan adalah EIGRP, EIGRP merupakan salah satu jenis routing protokol yang merupakan cisco proprietary, artinya jenis protokol ini hanya dapat digunakan pada perangkat cisco, tetapi sebenarnya tidak menutup kemungkinan brand perangkat lain akan mengadopsi routing protokol ini. Nah, kali ini saya akan ngoprek sedikit tentang eigrp di cisco ini, dengan menggunakan aplikasi simulasi packet tracer . Berikut topologi yang akan kita buat :


Pada praktek kali ini , kita belum memerlukan ip loopback untuk pengujian. Goal nya yaitu R5 dan R6 dapat terkoneksi dengan baik melalui routing eigrp . Untuk alamat ip masing masing interface di topologi menggunakan hostname router itu sendiri pada oktet terakhir. contoh, ip untuk interface fa1/0 R1 adalah 10.11.1.1 dan ip untuk interface fa0/1 R4 adalah 11.11.11.4 .
Oke, pertama konfigurasi alamat ip terlebih dahulu pada masing masing router .

R1

R1(config)#interface fastEthernet 0/0
R1(config-if)#ip address 13.13.13.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no shutdown
R1(config-if)#exit
R1(config)#interface fa0/1
R1(config-if)#ip address 10.10.10.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no shutdown
R1(config-if)#exit
R1(config)#interface fastEthernet 1/0
R1(config-if)#no shutdown
R1(config-if)#ip address 10.11.1.1 255.255.255.0
R1(config-if)#exit

R2
R2(config)#int fa0/0
R2(config-if)#ip address 13.13.13.2 255.255.255.0
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#exit
R2(config)#int fa0/1
R2(config-if)#ip address 12.12.12.2 255.255.255.0
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#exit

R3
R3(config)#int fa0/0
R3(config-if)#ip address 12.12.12.3 255.255.255.0
R3(config-if)#no shutdown
R3(config-if)#exit
R3(config)#int fa0/1
R3(config-if)#ip address 11.11.11.3 255.255.255.0
R3(config-if)#no shutdown
R3(config-if)#exit
R3(config)#int fa1/0
R3(config-if)#ip address 10.12.1.3 255.255.255.0
R3(config-if)#no shutdown
R3(config-if)#exit

R4
R4(config)#int fa0/1
R4(config-if)#ip address 11.11.11.4 255.255.255.0
R4(config-if)#no shutdown
R4(config-if)#exit
R4(config)#int fa0/0
R4(config-if)#no sh
R4(config-if)#ip address 10.10.10.4 255.255.255.0
R4(config-if)#exit

R5
R5(config)#int fa0/0
R5(config-if)#ip address 10.11.1.5 255.255.255.0
R5(config-if)#no shutdown
R5(config-if)#exit

R6
R6(config)#int fa0/0
R6(config-if)#ip address 10.12.1.6 255.255.255.0
R6(config-if)#no shutdown
R6(config-if)#exit

Jangan lupa setelah konfigurasi alamat ip, lakukan verifikasi bahwa konfigurasi alamat ip sudah benar dengan cara ping ke ip router lawan . Kalau sudah, sekarang waktunya masuk ke konfigurasi eigrp . Untuk mengkonfigurasi eigrp agar router dapat mengadvertise network nya masing masing, dapat menggunakan perintah "router eigrp <AS Number>" pada global configuration mode . Semua router akan mau adjective atau saling mengadvertise, jika dalam satu AS number, untuk contoh kali ini, kita menggunakan AS Number 100 . Sebenernya angka untuk as number itu terserah, dan maksimal angka untuk as number adalah 65535 .

R1
R1(config)#router eigrp 100
R1(config-router)#network 10.11.1.0
R1(config-router)#network 13.13.13.0
R1(config-router)#network 10.10.10.0
R1(config-router)#no auto-summary
R1(config-router)#exit
Perintah diatas digunakan untuk mendaftarkan network atau alamat ip yang akan di advertise ke router neighbors, isi dengan network yang terhubung langsung dengan router tersebut (R1) . Kemudian fungsi dari perintah "no auto summary" adalah agar eigrp tidak mengenal network tadi secara tradisional. Jika menggunakan auto summary maka network akan mendapatkan penyingkatan sesuai dengan class ip tersebut. contohnya 10.10.10.0 akan menjadi 10.0.0.0 dan 10.11.1.0 menjadi 10.0.0.0 sehingga ini bisa merugikan jika 2 network ini berada di next-hop yang berbeda

R2
R2(config)#router eigrp 100
R2(config-router)#network 13.13.13.0
R2(config-router)#network 12.12.12.0
R2(config-router)#no auto-summary
R2(config-router)#exit

R3
R3(config)#router eigrp 100
R3(config-router)#network 11.11.11.0
R3(config-router)#network 12.12.12.0
R3(config-router)#network 10.12.1.0
R3(config-router)#no auto-summary
R3(config-router)#exit

R4
R4(config)#router eigrp 100
R4(config-router)#network 11.11.11.0
R4(config-router)#network 10.10.10.0
R4(config-router)#no auto-summary
R4(config-router)#exit

R5
R5(config)#router eigrp 100
R5(config-router)#network 10.11.1.0
R5(config-router)#no auto-summary
R5(config-router)#exit

R6
R6(config)#router eigrp 100
R6(config-router)#network 10.12.1.0
R6(config-router)#no auto-summary
R6(config-router)#exit

Oke. saatnya pengujian, cobak ping dari R5 ke R6 . Pastikan hasilnya reply .

R5
R5#ping 10.12.1.6

Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.12.1.6, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 0/2/11 ms
R5#

Jika success rate bukan menunjukkan angka 0 percent, berarti konfigurasi eigrp telah berhasil . Sebagai tambahan, EIGRP juga mempunyai backup link, jadi ada satu link yang dijadikan sebagai jalur utama , ketika jalur utama mati atau down, maka secara otomatis jalur akan berpindah ke jalur backup . Nah, proses ini berjalan dengan sangat cepat . Sebagai bahan percobaan, dalam topologi terdapat 2 jalur untuk menuju R6 yaitu dapat melalui R2 maupun R4 , namun eigrp akan memilih best path dengan cara menghitung matrik . Untuk mengetahui best path yang sedang berjalan, tinggal traceroute dari R5 ke R6 . kalau dilihat dari traceroute yang sudah saya lakukan, ternyata untuk menuju R6 , harus melewati 10.10.10.4 (R4) terlebih dahulu. berarti R4 menjadi jalur utama .


coba kita buktikan fitur backup ini pada eigrp dengan cara memutus jalur antara R1 dan R4 yang menjadi jalur utama dengan cara mematikan fa0/1 pada R1 :

R1
R1(config)#int fa0/1
R1(config-if)#shutdown
R1(config-if)#exit

Sehingga link antara R1 dan R4 akan mati seperti gambar berikut :

Sekarang kita uji apakah R5 masih dapat terhubung dengan R6 walau jalur utama sudah mati ? . kita dapat mengujinya dengan perintah traceroute .


Nah, ternyata fitur backup pada eigrp memang dapat bekerja dengan baik. R5 dan R6 masih dapat terhubung dengan jalur backup 13.13.13.2 (R2) yang sebelumnya 10.10.10.4 (R4) menjadi jalur utama .

Terimakasih
Read more

Sunday, April 16, 2017

Remote Router Cisco menggunakan Telnet

Remote Router Cisco menggunakan Telnet

Febriyan Net - Banyak sekali cara untuk mengkonfigurasi suatu perangkat jaringan, salah satu cara untuk mengkonfigurasi perangkat jaringan adalah menggunakan telnet . Dengan menggunakan telnet kita bisa mengkonfigurasi suatu perangkat dengan menggunakan koneksi terminal. Untuk lebih lengkapnya dapat di baca di bawah ini :

Pengertian

Telnet (Telecommunication network) adalah sebuah protokol jaringan yang digunakan pada Internet atau Local Area Network untuk menyediakan fasilitas komunikasi berbasis teks interaksi dua arah yang menggunakan koneksi virtual terminal. TELNET dikembangkan pada 1969 dan distandarisasi sebagai IETF STD 8, salah satu standar Internet pertama. TELNET memiliki beberapa keterbatasan yang dianggap sebagai risiko keamanan.
Baca selengkapnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Telnet

Kali ini admin akan mempraktekkan cara remote router di cisco menggunakan telnet ini pada aplikasi simulasi bernama Cisco Packet Tracer . Nah, dengan menggunakan aplikasi tersebut akan memudahkan kita dalam pembelajaran kali ini karena aplikasi tersebut sangatlah ringan dan mempunyai banyak fitur .
Untuk cara installasi Cisco Packet Tracer dapat dibaca di artikel sebelumnya tentang Cara install Cisco Packet Tracer Pada Ubuntu 16
Nah, sekarang kita akan membangun rancangan topologi nya terlebih dahulu :

Remote Router Cisco menggunakan Telnet
Seperti topologi diatas, hubungkan komputer dengan menggunakan kabel cross ke Perangkat router nya. Setelah Router R1 dan Komputer terhubung menggunakan kabel cross, sekarang kita masuk ke CLI nya R1 

Pertama tama hidupkan terlebih dahulu router dengan cara ketikkan perintah

Router>enable

Untuk masuk ke mode global dengan cara ketikkan perintah

Router#configure terminal

Kemudian ketikkan perintah untuk mengganti hostname dari router nya ke R1 .
Router(config)#hostname R1

Setelah itu beri password atau kata sandi pada saat user ingin masuk ke mode Privilleged .

R1(config)#enable secret 123
Ganti tulisan yang bercetak tebal dengan password terserah.

Kemudian buat username dan password untuk nantinya login pada saat telnet.

R1(config)#username febri secret 123

Kemudian masuk ke konfigurasi telnet nya

R1(config)#line vty 0 4

Lalu konfigurasi agar pada saat user sedang melakukan telnet, akan disuguhkan dengan username dan password yang harus diisi.
 
R1(config-line)#login local

Kemudian ketikkan perintah :

R1(config-line)#transport input telnet

R1(config-line)#exit

Nah, sekarang kita akan mengkonfigurasi ip address router dapat terhubung dengan komputer .

R1(config)#int fa0/0
R1(config-if)#ip address 192.168.1.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no shutdown

Jika sudah, tinggal konfigurasi ip address pada PC nya agar satu subnet dengan router nya .

Remote Router Cisco menggunakan Telnet

Sekarang waktunya pengujian, masuk ke komputer > Command Prompt . Kemudian ketikkan perintah :

PC>telnet 192.168.1.1
 Yang bercetak tebal merupakan ip address dari router nya yang akan di telnet.
Nah, sekarang tinggal masukkan username dan password yang telah di setting tadi :D .

Remote Router Cisco menggunakan Telnet

Sekarang kita sudah dapat mengkonfigurasi router nya lewat PC .

Sekian artikel tentang Remote Router Cisco menggunakan Telnet . Semoga bermanfaat bagi teman teman.
Terimakasih
Read more